Senin, 26 Oktober 2026 Berita Terkini & Terpercaya
brkbontang.orgbrkbontang.org
brkbontang.org - Your source for the latest articles and insights
Beranda › Badan Sering Pegal Usai Perjalanan Jauh, Ternyata ...

Badan Sering Pegal Usai Perjalanan Jauh, Ternyata Ini Biang Keroknya

Sering bepergian bukan alasan malas bergerak. Kenali tanda-tanda tubuh yang perlu diwaspadai sejak awal sebelum makin parah.

Badan Sering Pegal Usai Perjalanan Jauh, Ternyata Ini Biang Keroknya

Gue termasuk orang yang sering banget keluar-masuk kota. Kadang naik kereta enam jam, kadang nyetir sendiri sampai delapan jam gara-gara macet parah di tol. Awalnya gue pikir semua pegal-pegal itu cuma efek capek biasa. Ternyata enggak, lho. Ada beberapa tanda yang dulu gue abaikan, dan sekarang gue sesal karena telat sadar.

Nah, buat kamu yang hidupnya sering di jalan — entah itu kerja lapangan, dinas luar kota, atau memang hobi traveling — artikel ini gue tulis dari pengalaman sendiri. Bukan buat nakut-nakutin, tapi biar kamu enggak mengulangi kesalahan gue.

Pegal yang Enggak Hilang Setelah Tidur Itu Alarm Pertama

Ini tanda paling sering gue anggap remeh. Dulu, sepulang perjalanan jauh, gue tidur sembilan jam dan bangun masih merasa kaku di leher sama pinggang. Gue pikir ya wajar, namanya juga capek. Ternyata kalau pegal itu bertahan lebih dari dua hari, itu bukan capek biasa lagi.

Tubuh kita ngasih sinyal lewat rasa kaku. Otot yang terlalu lama diam di posisi sama — duduk di kursi kereta, nyetir, atau duduk di ruang tunggu bandara — bakal mengeras dan kehilangan elastisitas. Kalau dibiarkan, lama-lama jadi nyeri kronis yang susah dibawa santai.

Baca juga: Pekerja Kantoran Super Sibuk? Coba 5 Hobi Ringan Ini Buat Isi Waktu Luang

Yang gue lakukan sekarang sederhana: begitu sampai di penginapan atau rumah, gue luangkan sepuluh menit buat peregangan ringan. Enggak perlu alat apa pun. Cukup putar leher pelan, angkat tangan ke atas, tekuk badan ke samping, dan jongkok sebentar. Kedengarannya sepele, tapi efeknya kerasa banget besok paginya.

Mudah Lelah Padahal Baru Jalan Sedikit

Ini tanda kedua yang sering luput. Kamu jalan dari lobi hotel ke kamar, atau naik tangga dua lantai di stasiun, dan napas sudah ngos-ngosan. Padahal dulu kamu bisa jalan jauh tanpa masalah.

Kalau ini mulai sering terjadi, artinya kapasitas fisik kamu menurun. Bukan karena kamu sakit, tapi karena tubuhmu jarang diajak bergerak selain duduk dan berdiri di perjalanan. Otot inti melemah, sirkulasi darah jadi lambat, dan jantung bekerja lebih berat untuk hal-hal kecil.

Gue pernah satu bulan penuh hampir tiap minggu dinas luar kota. Pulang ke rumah, naik tangga ke lantai dua saja sudah ngos-ngosan. Itu momen gue sadar ada yang salah.

Solusinya enggak harus gym, kok. Buat kamu yang sering bepergian, olahraga ringan yang paling masuk akal adalah yang bisa dilakukan di mana saja. Jalan cepat keliling area hotel lima belas menit, atau naik-turun tangga daripada pakai lift, sudah cukup buat menjaga tubuh tetap "hidup".

Kenapa Harus Ringan Dulu, Bukan Langsung Berat?

Karena tubuh yang jarang bergerak kalau langsung diajak olahraga berat malah rentan cedera. Gue pernah coba langsung lari lima kilometer setelah sebulan enggak olahraga, dan besoknya lutut gue sakit selama seminggu. Belajar dari situ, gue sekarang mulai dari yang ringan: jalan kaki, peregangan, atau sepeda statis kalau di hotel ada.

Waktu Luang yang Malah Bikin Gelisah

Ini yang paling enggak disadari banyak orang. Kamu punya waktu luang di kota lain — misalnya sore setelah urusan selesai, atau pagi sebelum jadwal berikutnya — tapi malah bingung mau ngapain. Akhirnya rebahan di kamar sambil scroll HP sampai bosan sendiri.

Padahal waktu luang itu justru kesempatan emas buat mengisi hobi. Gue dulu sering merasa "sayang banget" waktu luang di kota orang cuma dipakai buat tidur. Sekarang, gue selalu bawa satu hobi ringan yang gampang dibawa: buku tipis, kamera kecil, atau sekadar niat buat jalan-jalan keliling blok hotel cari kuliner lokal.

Hobi enggak harus mahal atau ribet. Buat kamu yang sering di jalan, coba pilih hobi yang portable — bisa dilakukan di mana saja tanpa banyak alat. Beberapa contoh yang gue coba sendiri:

  • Jalan kaki eksplorasi — keliling area sekitar penginapan, catat tempat menarik yang kamu lewati.
  • Fotografi jalanan — cukup pakai HP, tapi niatnya bukan asal jepret, tapi belajar komposisi.
  • Menulis jurnal perjalanan — lima belas menit sebelum tidur, tulis apa yang kamu lihat hari itu.
  • Peregangan atau yoga ringan — bisa di kamar, cuma butuh matras tipis atau handuk.

Dari semua itu, gue paling sering balik ke jalan kaki. Simpel, gratis, dan sekaligus jadi olahraga ringan. Kadang gue jalan empat puluh menit keliling kota kecil, dan pulang badan malah lebih segar dibanding habis rebahan dua jam.

Tanda Lain yang Sering Diabaikan

Selain tiga hal di atas, ada beberapa sinyal lain yang menurut gue perlu kamu waspadai sejak awal, terutama kalau kamu sering bepergian:

  • Susah tidur meski badan capek. Ini tanda tubuh stres karena jadwal yang enggak teratur. Coba bikin ritual kecil sebelum tidur, misalnya peregangan lima menit atau baca buku.
  • Nafsu makan berubah drastis. Kadang jadi malas makan, kadang malah kalap. Dua-duanya sinyal tubuh enggak nyaman dengan pola yang berantakan.
  • Mood gampang naik-turun. Bukan cuma soal pikiran, tapi bisa jadi tubuhmu kurang gerak dan kurang istirahat berkualitas.
  • Sering sakit ringan setelah perjalanan. Pilek atau tenggorokan gatal tiap pulang dinas itu tanda imun sedang kewalahan.

Gue enggak bilang semua tanda ini pasti berbahaya. Tapi kalau kamu mulai ngerasain beberapa sekaligus, itu tandanya tubuh minta diperhatikan. Enggak perlu langsung ke dokter kalau masih ringan — coba dulu perbaiki pola gerak dan waktu istirahat.

Cara Gue Menjaga Ritme di Tengah Jadwal yang Padat

Setelah beberapa kali kelimpungan, gue bikin aturan sederhana buat diri sendiri. Pertama, selalu sisakan sepuluh menit buat bergerak setiap kali sampai di tempat baru, entah itu peregangan atau jalan cepat keliling. Kedua, pilih satu hobi ringan yang bisa dibawa ke mana-mana dan jadikan rutinitas kecil di waktu luang.

Ketiga, dan ini yang paling penting: gue berhenti menganggap waktu luang sebagai "waktu buat rebahan total". Bukan berarti enggak boleh istirahat, ya. Tapi ada bedanya antara istirahat yang bikin segar dan rebahan yang bikin makin lemas. Gue belajar membedakan keduanya dari pengalaman, dan sekarang badan gue jauh lebih enak diajak jalan jauh.

Jadi buat kamu yang sering bepergian, mulai perhatikan tanda-tanda tadi dari sekarang. Enggak perlu nunggu pegalnya jadi parah atau waktu luangnya habis tanpa arti. Tubuhmu bakal berterima kasih, dan perjalananmu jadi jauh lebih nikmat.

Tags: hobi traveling olahraga ringan waktu luang kesehatan pelancong peregangan